pindah rumah
ah, blog ini tidak pernah up to date, jadi tidak perlu dikunjungi. tapi kalau Anda memaksa, tinggalkan pesan di rumah lama saya,alamatnya http://labyrinthofthought.blogspot.com. terima kasih.
ah, blog ini tidak pernah up to date, jadi tidak perlu dikunjungi. tapi kalau Anda memaksa, tinggalkan pesan di rumah lama saya,alamatnya http://labyrinthofthought.blogspot.com. terima kasih.
jiwaku merenggas
sejak kau bangunkan dari tidur panjang
meski tanpa agitasi
serta minus kidung adagio
roda hidup sudah bergulir
berderak...
mengintimidasi: menakut-nakuti; menggertak; mengancam
brace yourself
it's suppose to be uneasy
bumpy road awakes us.
understand we'll be with you
hold you, lift you
through the high and low
cry and laughter.
be strong for the sakes of your fragile mother and sisters
and when you feel like slipping away
we'll reach you
support you.
just shout.
share it.
then you can face it.
you can make it.
you can get over it.
learn the lesson of life
I totally treasure this day! hari ini Nandinne sidang skripsi (dan lulus dgn nilai A) jadi bisa ketemu teman-teman. sambil menunggu giliran Nandinne dan sambil pula menunggu jadwal mengajar yang baru akan dimulai pukul 11.30, saya putuskan untuk menikmati secangkir kopi ABC susu dan sepotong donat keju di kantin yang penuh sesak bersama Buncil. setelah bertukar kabar tentang beberapa kawan dekat, akhirnya obrolan bergeser ke soal feminisme (yg dicurigai sebagai hasil konspirasi laki-laki untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. ingat, Freud pernah bilang perbuatan manusia di-drive oleh sexual needs), film-film biru, institusi perkawinan dan nilai-nilai tradisional yang terinternalisasi. senangnya.
salah satu hal yang dibicarakan cukup seru adalah rasa ingin tahu saya yang muncul beberapa tahun lalu (tapi entah mengapa saya belum pernah membawanya ke dalam obrolan hingga hari ini).
saat sedang membuat in-depth reporting, saya memilih untuk membuat laporan tentang kebiasaan menonton film biru. saat sedang mencari bahan di dunia cyber, saya menemukan analisis menarik (saya lupa siapa yg membuat analisis itu). penulisnya merasa bahwa di film-film biru, adegannya didominasi oleh kegiatan-kegiatan yang tidak masuk akal--kalau tidak langsung ke inti film (yaitu kegiatan persetubuhan yang selalu bisa bikin deg-degan itu). di artikel itu, si penulis memberikan salah satu contoh film biru yang pernah ditontonnya: seorang perempuan dengan pakaian minim berusaha membelah kayu (dalam gerakan-gerakan yang menurutnya sangat lame) di hutan dengan menggunakan sepatu berhak tinggi. ah, tentu saja saya berusaha membayangkan adegan yang tengah digambarkan si penulis. dari situ saya jadi tergelitik. kenapa si tokoh perempuan itu harus pakai sepatu berhak tinggi kalau mau membelah kayu? saya jadi ingat, di beberapa film biru yang pernah saya tonton (dan nikmati? hahaha...) hampir semua aktrisnya mengenakan sepatu berhak tinggi saat aktivitas bertukar cairan tubuh dilakukan. yang menarik, semua pakaian bisa dilucuti (termasuk membuka kaitan bra yang rumit atau pantyhose yang bandel), tapi sepatu yang bisa dengan-mudah-dan-segera dilepas ternyata tetap dipakai sampai sang aktor menggalami ejakulasi. saya jadi berhipotesis yg sebenarnya fetish pada sepatu itu laki-laki. hanya, fetishism itu sudah ditransformasi sedemikian rupa sehingga perempuan dengan sukarela dan senang hati memuaskan kecintaan laki-laki terhadap sepatu berhak tinggi (mungkinkah karena pria tidak kuat menanggung siksa sepatu berhak tinggi dan melemparkan tugas itu pada perempuan? hahaha...). perempuan dikondisikan (lewat beragam media) untuk merasa seksi saat mengenakan sepatu berhak tinggi.
siapa pun boleh tidak setuju, tapi saya punya kecurigaan besar, hahaha...
Buncil punya pendapat yang lebih kontroversial. setelah mendengarkan argumentasi saya, dia pun curiga jangan-jangan high heel shoes itu (yang berhak tipis dan lancip alias stilleto, bukan wedges shoes) adalah perlambang atau simbol (ah, apa kabar kajian budaya?) penis yang pada akhirnya menegaskan pemujaan pada kaum pria. dipakai dan disukai perempuan, bahkan bisa membuat pemakainya merasa seksi. feminin. nah...
ingat, ini kan cuma obrolan sambil menyesap kopi dan menikmati donat keju, jadi boleh saja kalau ada yang menganggap kami berdua sedang beronani, memuaskan diri sambil mengobjektifikasi laki-laki. tapi tolong jangan beri label feminis pada saya (entah Buncil). saya cuma neurotik...

lambang biru yang punya banyak cerita. dibuat untuk menyambut inisiasi teman-teman 2000 oleh orang yang buta warna tapi sangat berbakat. ah, jadi ingat masa itu. orang-orangnya. suasananya. ruangannya. asapnya. baunya. emosinya. sudah kemana saja, kawan? semoga pencarian di belantara hidup kalian membawa pada kekayaan batin, ya. rindu berbagi cerita!
can't stop questioning:
what is it you want?
what is it you seek?
you seem anxious
uncomfortable within your own skin.
do you crave for attention
or simply the other you that emerge?
with all those rituals
have you ask yourself why?
pada suatu ketika...
jenuh mencapai titik tertinggi
muak dan ingin jauh pergi
pada suatu ketika...
terhisap romantisme masa lalu
rindu hari kemarin
pada suatu ketika...
rumput tetangga tampak lebih segar dan hijau
lupa pencapaian diri sendiri
pada suatu ketika...
penemuan diri terasa mengejutkan
malu jadinya
pada suatu ketika...
kesadaran menggugah
bahwa hidup harus disyukuri
Post Scriptum:
ah Pemberi Hidup, ajari aku beri aku hati yang lapang dan rasa terima kasih tanpa batas.
usai menikmati akting hebat Kevin Spacey di Life of David Gale. jadi belajar sedikit tentang Lacan. ringkasnya, menurut Lacan, orang akan selalu bahagia kalau ada fantasi yang ingin dikejar. bukan sejauh mana perolehan individu sepanjang hidupnya. ketika fantasi sudah tercapai, maka selesai sudah. bukan fantasi lagi namanya. tidak ada kesenangan lagi.
mungkin itu sebabnya kenapa manusia tidak pernah puas.
yang menarik adalah contoh-contoh yang diungkapkan Gale (karakter yang diperankan Spacey). saat dia bertanya apakah ada mahasiswa di kelas itu yang ingin jadi peraih nobel atau pulitzer, tidak ada seorang pun yang mengangkat tangannya. tapi ketika Gale bertanya apakah ada mahasiswa yang ingin jadi orang terkenal, bintang rock MTV, banyak tangan terangkat tinggi disertai gumaman disana-sini. semua orang tampak gembira. bersenang-senang.
ada dua hal yang menarik dari adegan ini. pertama. betapa sebenarnya menjadi bintang adalah fantasi banyak orang. tengok saja slogan yang paling hip saat ini: BUKAN SEMBARANG BINTANG. LEBIH DARI SEKEDAR BINTANG, dll. ada apa? kalau semua orang jadi bintang, lalu apa bedanya? dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia Raya. tapi di seluruh penjuru bumi. mungkin ini bukti sederhana bahwa pada dasarnya manusia suka jadi pusat perhatian. manusia senang dipuja-puji. atau mungkin motifnya lebih artifisial? entahlah. yang jelas ini fenomena menarik.
kedua, gambaran bahwa ruang kuliah bisa jadi sangat menyenangkan. menyenangkan buat pengajar dan menyenangkan buat mahasiswa. teori-teori Lacan yang sulit saja bisa diterjemahkan sedemikian rupa. ah, betapa irinya hati ini. mungkinkah akan saya temui ruang kuliah yang demikian dinamis? pengajar yang luar biasa (tidak cuma sibuk dengan teori dan pikirannya sendiri) dan mahasiswa yang dinamis, haus ilmu dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. semoga ini bukan sekedar kerinduan, tapi bisa diwujudkan.
PS: jadi terkenang Bu Ea (alm.), pengajar hebat.